RSUBH

RSU Bhakti Husada Menyimpan Jejak Peninggalan Belanda

RSU Bhakti Husada Menyimpan Jejak Peninggalan Belanda

RSU Bhakti Husada | Jumat, 25 Oktober 2019 - 12:05:37 WIB | dibaca: 89 pembaca

Ziekenhuis Krikilan

RSU Bhakti Husada Krikilan secara geografis merupakan tempat bertemunya udara dingin dari arah barat dan udara hangat dari timur. Dan hal ini oleh Belanda dianggap sangat cocok untuk lokasi pendirian fasilitas kesehatan karena sangat bagus dalam mendukung penyembuhan pasien.

Saat perusahaan kereta api asal Belanda, Staatsspoorwegen (SS) membangun jalur kereta api di daerah Jember di tahun 1897, daerah Krikilan mulai berubah dengan dibangunnya jalur kereta api dengan jurusan Kalisat-Banyuwangi, dimana para pekerja dari Madura dan Jawa Tengah banyak yang diangkut dan sebagian tinggal di daerah itu. Saat tinggal di daerah Krikilan, para pekerja itu terserang penyakit malaria. Jumlah penderita malaria terus meningkat dan membuat orang Belanda dari perusahaan Perkebunan Kali Kempit dan Kendeng Lemboe membangun rumah sakit yang diberi nama Ziekenhuis Krikilan.

Pada tahun 1898, rumah sakit tersebut tidak hanya merawat penderita malaria, tetapi juga merawat ibu hamil dari perusahaan dan perkampungan di sekitar. “Saat itu juga ada bidan”, terang direktur RSU Bhakti Husada Krikilan, drg. Hindun Maridyana. M.Kes.

Pengembangan ziekenhuis Krikilan dilakukan bersamaan dengan pembangunan terowongan jalur kereta api Jember-Banyuwangi pada tahun 1901. Ziekenhuis Krikilan diresmikan pada tahun 1912 dimana bangunannya masih terbuat dari kayu dengan atap rumbia atau ijuk. Dan pada tahun 1918, dilakukan pebangunan secara permanen.

Perkembangan Rumah Sakit Krikilan ini cukup bagus. Bahkan saat itu, telah dilengkapi dengan peralatan rontgen pertama yang dibuat untuk menegakkan diagnose penyakit pasien, yaitu alat foto sinar X merk Philips tipe App. 11408/63 No. 128.48, yang hingga kini masih tersimpan dengan baik.

Di tahun 1920-an, Ziekenhuis Krikilan dipimpin oleh dr. Van Den Hengel. Ia dikenal sebagai pria yang simpatik, berpengetahuan luas, memiliki karakter yang rapi, dan selalu tersenyum. Di bawah kepemim[inannya, Rumah Sakit Krikilan menjadi satu-satunya rumah sakit tercanggih di Banyuwangi pada jamannya. Beberapa tokoh Belanda lahir di Rumah Sakit Krikilan, salah satunya adalah Willem Frederik, seorang penulis puisi, novel, cerita pendek, drama, studi panjang buku, esai, dan kritik sastra. Dr. Van Den Hengel meninggal akibat kanker ganas yang menyerang tubuhnya. Kepemimpinannya diteruskan oleh dr. H. Van Nijk.

Sejak 1932, Rumah Sakit Krikilan telah memiliki mobil ambulans sendiri dan telah dilengkapi dengan peralatan kesehatan yang sangat modern dan efisien dengan 5 ruang perawatan, air bersih dari mata air di belakang rumah sakit, dan ruang untuk berjemur dengan cahaya listrik. Saat itu pasien tercatat sebanyak 82 orang dan tertulis di Koran Belanda pada tahun itu.

Para pekerja maupun bangsawan Belanda lebih memilik melakukan pengobatan di rumah Sakit Krikilan, termasuk pekerja dari kamp interniran di KEsilir, Siliragung. “Masa kepemimpinan dr. H. Van Nijk, Rumah Sakit Krikilan berhasil menyelamatkan banyak nyawa dan memesan 30 tempat tidur untuk mengobati para pasien. Sayangnya, umur dr. H. Van Nijk tidak panjang. Pada Mei 1943, ia dibawa pergi oleh Ken Pruitt Tai. Dan pada Juni 1943 ia ditemukan tewas dibunuh. Sejak saat itu, Rumah Sakit Krikilan dipimpin oleh dr. Tan atas perintah pemerintahan Jepang.

Pada tahun 1966, Rumah Sakit Krikilan yang saat itu masih dikuasai Belabda diambil alih sepenuhnya oleh pemerintahan Indonesia. Dan pada 17 September 1966, Rumah Sakit Krikilan resmi berganti nama menjadi Rumah Sakit Bhakti Husada yang diresmikan oleh Direktur PPN-Karet XVI, Soediharjohoedojo.

Hindun menyebutkan bahwa sejak awal berdiri ada 20 orang yang sudah memimpin RSU Bhakti Husada Krikilan. Mereka adalah dr. Van Den Hengel (1911-1925); dr. H. Van Nijk (1925-1943); dr. Tan (1943-1945); dr. Yowa (1945); Yakobus (1945-1950); dr. Margelenter (1950-1953); dr. Dubois (1953-1959); dr. Kue Tik Yu (1959-1965); dr. Sulaiman (1965-1966); dr. Musytahar Umar Tholib (1966-1993); dr. Darmadi (1993-1996); Ir. Amirin Suwarno (1996-1997); Ir. Yunus D wattie (1997-1998); dr. Ahmad Hatta Said (1998-2001); dr. I Wayan Sulianta (2001-2009); drg. Robby Hakkun Nurrahman (2009-2011); dr. Dwianto Budi Prabowo (2011-2012); dr. Zunita Ahmadan Kusuma Dewi (2012-2016); dr. Syaiful Nur Hamzah (2016-2018); dan drg. Hindun Mardiyana, M.Kes (2018-sekarang).

Untuk bisa melihat jejak – jejak Belanda dalam bidang kesehatan, kini telah diadakan Hospital Heritage Tour. “Para wisatawan bias melihat gedung lama zaman Belanda yang dibuat rumah dinas direktur Ziekenhuis Krikilan dan beberapa alat kesehatan peninggalan Belanda”, terang drg. Hindun. Bila berkunjung ke Rumah Sakit yang dikelola, wisatawan akan dapat telling story tentang sejarah Rumah Sakit Krikilan dan Kota Glenmore. “Beberapa waktu lalu ada tamu dari Belanda, mereka dating khusus untuk melihat tempat lahir moyangnya di Ziekenhuis Krikilan. Mereka sangat senang dan excited karena jejak moyangnya masih bias ditemukan”, terangnya.

Saat berkunjung itu, mereka berpesan agar Ziekenhuis Krikilan tetap dipertahankan dan dirawat dengan baik agar para tamu dari Belanda semakin banyak yang dating. Untuk tamu yang berminat mengunjungi Ziekenhuis Krikilan dapat menghubungi marketing Agung di nomor 082235434277.  










Komentar Via Website : 2
Langsung.Top
20 November 2019 - 07:18:59 WIB
Selamat pagi semangat beraktifitas.
Layanan SEO Tahunan https://seohandal.id .
Jasa rental lepas kunci http://sriratubali.com
Lambog
10 Desember 2019 - 05:29:21 WIB
Butuh SEO di Jawa Tengah, ke https://seotunggal.com/jasa-seo-semarang/ aja...
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)